Minggu, 30 Januari 2011

kenapa mesti senja....

Perjalanan itu menceritakan tentang kisah yang tak terlupakan, mengukirkan sejarah dalam detiknya.. Jejak itu tertinggal jauh, tapi tapaknya terekam dalam. Setiap langkahnya membawa mimpi yang melewati kepastian antara menjadi nyata dan gugur...
Perjalanan itu mengartikan sebagian tentang kehidupan...
Menceritakan kisah yang begitu bertolak belakang.
Senja itu kau hadir menyisakan segenggam harapan ingin kuraih namun yang tersisa hanya bayang saja...Kehadiranmu yang singkat menyisakan kepedihan. Ibarat senja sore itu....

Kenapa mesti senja???

kita tak pernah tau, apa yang akan terjadi setelah kita menentukan pilihan.
Setelah senja mengantar mentari tiba diperaduannya, setelah senja mengutus angin untuk mengabarkan rembulan bahwa waktunya tlah tiba, saat ternyata bintang tiba lebih dulu....
Senja tetap disitu, hingga waktunya tiba....

Dan perjalan itu selalu menjadi memori yg terekam kuat dalam ingatan.....
Hingga disini, tepat searah senja....
Aku mengantarnya pergi bersama angin menuju tempatnya..

Dan tak lagi ada Tanya tentang kenapa harus senja?

Tak mudah memang mengubahnya menjadi siang ataupun malam
Namun kuharap kenangan hari itu menyertai setiap nafas yang tak berujung
hingga takkan kusesali jika senja tak hadir lagi...


_laut jawa_
30 Januari 2011

Selasa, 11 Januari 2011

Terlerai...

Ini halaman baru…
Cerita baru…

Tentang keangkuhan yang lalu,
Tentang egois yang dulu,
Tentang arogansi diri yang merasa aku….

Smua terlerai….
Biarlah angin mengajak senja bercengkrama sembari melerai semua..

Hingga tiba waktunya, smua berjalan seperti biasa…

Adapun tentang badai, tentang mendung, tentang gelapnya malam, tentang syair yang didendangkan rintik hujan… tetap menjadi cerita yang terkubur dalam…

Membiarkan T E R L E R A I….

Minggu, 09 Januari 2011

pesan maaf senja...

Rintik itu perlahan jatuh, menuruni setiap senti yang dilaluinya...
Pernah melewati angin yang begitu kencang berhebus, sempat menyapa dedaunan rimbun, juga jatuh menabrak batu karang...

Inikah hidup?

Berbagai musim berlalu, hingga tiba pada waktunya...
Mungkin senja terlalu angkuh, merengkuh anggunnya...
Membiarkan semua berlalu, enggan menengoknya...
Tak memahami mentari, juga rembulan, hingga bintang yang sekedar lewat...
Hanya menikmati megahnya, membungkam jingga...
Hingga tak memahami, betapa luasnya dunia...
Entah kata penyesalan apa yg disampaikan jingga, hingga senja tertunduk...
Tak mampu menatap mentari, rembulan, bahkan bintang yang hanya sekedar berlalu...
Langit menyebar kata maaf itu, senja gemetar menunduk...
Tak mengerti apa yg harus diperbuatnya, segera menyambut mentari, atau berlari membiarkan rembulan dan bintang segera tersenyum...
Hingga tiba waktunya, senja belum juga beranjak...
Merengkuh bersama angin, menggigil ketakutan…
Belum mampu mengucap…
Mencoba membiarkan semua terlerai oleh angin…

Dingin…

Hangatnya mentari pun tak mampu menyentuh senja….
Akhirnya…

Hening…

Senja hanya mampu terdiam…
Hingga langit pun tak lagi mengumumkan maafnya….

Selasa, 14 Desember 2010

bapa...

Bapa….
Rasanya… sudah lama sekali aku tak memandangnya…
Rasanya… sudah lama sekali aku tak memeluknya…

Ah,, terlalu malu aku untuk sekedar memandanginya…
Kuperhatikan setiap garis wajahnya…
Kuperhatikan setiap bentuk tubuhnya…

Rambut hitamnya, yang sedikit ikal…
Rahangnya membentuk ketegasan…
Setiap tuturnya menggambarkan kekuatan…

Ah,
Rasanya… sudah sangat lama aq tak mendengar guarauannya…
Rasanya… sudah sangat lama aq tak di usilinya…

Tangannya yang menggenggamku erat,
Menandakan penjagaannya…

Meski tak tersenyum,
Meski tak lembut…
Ia lakukan dengan caranya untuk membuat kami bertahan…

Ah,,
Kini aku memandang wajahnya…
Dengan rambut putihnya, kantung mata, kerutan di dahinya, garis wajahnya….
Semua menggambarkan perjalanannya disisiku, untukku…
Menjagaku…

Entah berapa kali aku membuatnya resah…
Entah berapa kali aku membuatnya susah…
Entah berapa kali aku membuatnya gundah…

Namun…
Itulah dia…
Seorang lelaki yang tak kan pernah terganti kasihnya…

Love you dad….

penantian...

Aku menunggumu disini,
Seperti tanah tandus yang merindu hujan….
Aku menunggumu disini,
Seperti bunga yang hampir layu mengharapkan hujan walau setetes….
Aku menunggumu disini,
Dikaki gunung yang akan kita daki…
Aku menunggumu disini,
Seperti senja yang menharapkan lembayung jingga…
Aku menunggumu disini,
Seperti malam yang menantikan kedatangan rembulan…

Dan aku menunggumu disini,
Dalam keharusan….

Dalam penantian ide yg tak kunjung datang….
Bandung, 05 Okt’10

Kamis, 02 Desember 2010

tak temui jawab...

Aku terus berkata,

Aku terus bergerak,

Tak mengenal makna,

Tak mengenal hikmah,

Tak mengenal mimpi…

Semua hanya pengandaian kosong.

Apa yang sebenarnya berada dibalik tirai itu?
Aku sama sekali tak tau….

teruntuk dua orang yg kucintai...

Bismillah…

Kepada kedua orang yg teramat kucintai...
Semoga selalu dalam lindungan-Nya….

Entah apa yg harus aku ceritakan, karena aku memang pengingat yg buruk…
Entah apa yg harus kusampaikan, karena akupun tengah bimbang.
Jalan ini… aku hanya terus mengikutinya, setiap langkahnya tak kumengerti. Meski aku menoleh, tak juga aku temukan jawabnya.

Yang kuingat, kalian selalu memaafkan aku, yang kuingat kalian selalu melindungiku, yang kuingat kalian memberikan apa yang kubutuhkan, yang kuingat aku terlampau bodoh untuk mengingatnya….

Aku sangat menyadarinya….
Banyak hal yang kulakukan membuat kalian kecewa, sakit, atau bahkan mungkin perasaan lain yang tak kuketahui….

Membuatmu menangis, membuatmu terluka…
Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan…

Entah berapa banyak peluh yang mengucur dari dahi berkerut milikmu, tak peduli rasa kaku yang membuat punggungmu sakit.

Sungguh, aku belum juga memahami….

Mengapa angin berhembus,
Mengapa matahari begitu terik,
Mengapa rembulan berubah bentuk setiap harinya,
Mengapa awan terus bergerak mengikuti angin,
Mengapa mentari segera tenggelam dan membawa serta senja….

Terlalu banyak yang tak kufahami….
Terlalu banyak yang telah kulewati….
Terlalu banyak waktu yang kulalui tanpa arti….

Tak lagi ada kata yang aku leraikan dari mulut berlumur dosaku….

Maaf….

Maaf, untuk tiadanya penghargaanku pada semua yang telah kalian lakukan untukku….
Maaf, untuk segala tangis yang tertahan saat aku begitu menyakitimu…
Maaf, untuk semua peluh yang telah bercucur tanpa ku seka….
Maaf, untuk semua waktu yang kubuang….

Masih adakah ruang untukku?

Maaf…